Menilik Perjalanan Little Tokyo di Kawasan Blok M

Anita D Prameswari
4 min readDec 3, 2020

--

Salah satu restoran bergaya arsitektur Jepang di Jalan Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Senin (30/11). Sumber: Dokumentasi Pribadi

Berisik knalpot motor yang melintas di Jalan Melawai 6 sudah akrab di telinga siapapun yang menyinggahi akses utama menuju Blok M Square itu. Bunyi tersebut menjadi pengiring kegiatan harian Iyat (58), seorang petugas Satuan Pengamanan (Satpam) yang sehari-harinya mengawasi Kawasan Little Tokyo, Blok M, Jakarta Selatan. Ia sedang mengisap sebatang rokok saat ditemui pada Senin (30/11), di depan salah satu kedai makanan Jepang yang tidak buka. Dengan logat Jawa kental, lelaki itu memperkenalkan diri.

“Nama saya Iyat, dari Jogja. Tempat tanggal lahir saya Jogjakarta. Saya disini dari tahun 1985 sampai sekarang.”

Tigapuluh lima tahun sudah Iyat dedikasikan membantu Suku Dinas (Sudin) Pariwisata Kotamadya Jakarta Selatan mengontrol salah satu potensi rekreasi budaya asing di Jakarta itu. Ia menuturkan, yang paling menonjol dari kawasan Little Tokyo adalah banyaknya restoran Jepang yang sangat jarang ada di tempat lain. Meskipun demikian, ia menambahkan, jalan-jalan di Melawai juga ditumbuhi banyak hotel dan beberapa tempat hiburan malam seperti klub dan bar yang ditujukan untuk konsumsi ekspatriat.

“Masakan lokal jarang. Disini ya… Jepang semua. Dan tamu-tamunya ya… juga Jepang semua.”

Potret malam restoran Jepang, Izakaya Taichan, di Jalan Melawai no. 6, Kawasan Blok M, Jakarta Selatan pada Senin (30/11). Sumber: Dokumentasi Pribadi

Little Tokyo dan keotentikannya yang cukup terjaga menarik perhatian banyak orang untuk menyambangi tempat tersebut. Beberapa orang ingin mencicipi cita rasa asli masakan Jepang yang disajikan lewat izakaya — bar yang menyediakan makanan kecil dan minuman beralkohol — atau hanya sekadar berfoto dengan latar belakang ornamen Negeri Sakura yang khas. Layaknya Nadya Fitriza, seorang mahasiswa yang menekuni street photography dan sudah mengunjungi Little Tokyo tiga kali sepanjang 2020.

“Dari namanya saja sudah Little Tokyo, gitu kan. Karena tidak sanggup pergi ke Jepang, jadi melihat, oh, ini ada arsitektur Jepang, beberapa restoran Jepang di sana. Ya akhirnya mengunjungi kawasan Little Tokyo Blok M ini.”

Selain datang untuk mengasah keterampilan memotret, Nadya juga rutin datang ke festival budaya Jepang Ennichiisai yang diselenggarakan setiap tahun— walau perempuan tersebut agak berkecil hati karena pandemi COVID-19 membuat acara favoritnya itu batal terlaksana tahun ini. Sebab, bagi Nadya, berdesak-desakkan dalam keramaian sambil menyoraki penampil di panggung adalah pengalaman berkesan kala datang ke Little Tokyo.

“Apalagi ketika sudah menjelang sore ke malam hari, itu pasti akan ramai sekali.”

Festival Ennichiisai di Kawasan Little Tokyo, Blok M, Jakarta Selatan pada 2019. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sependapat dengan Nadya, Iyat yang telah berkali-kali menjadi pihak keamanan utama di kawasan Little Tokyo pun menganggap festival Ennichiisai kerap mengubah jalanan Melawai itu menjadi lautan manusia. Ratusan bahkan mungkin ribuan penggemar budaya Jepang tumpah ruah di sana, berbondong-bondong datang dalam jangka waktu dua hari di akhir pekan.

“Ini… dari Melawai 5, 6, 7, 8 tuh… mau jalan saja susah.”

Padahal, apabila diusut ke belakang, Kawasan Blok M yang ada di daerah Kebayoran — yang selanjutnya disebut Kebayoran Baru — itu awalnya hanya sebuah lahan kosong yang kemudian dibangun pada era Presiden Soekarno awal 1960. Blok M adalah salah satu kota satelit baru yang tersisa (selain Blok A dan Blok S) dari konstruksi besar-besaran Jakarta sebagai tuan rumah ASIAN Games 1962. Karena dekat dengan area Ring 1 yang banyak kedutaan besar, area tersebut (Blok M) menjadi tempat tinggal duta besar Jepang dan beberapa pegawai kedutaan tersebut hingga saat ini.

“Jadi kan memang sebenarnya orang Jepang itu, ya hampir mirip juga dengan orang Cina, kan. Dia mau hidup berkelompok juga sebenarnya.”

Benar saja, pernyataan mantan Kepala Penelitian dan Pengembangan Komunitas Historia Indonesia (KHI), Kholid Zaim, rupanya menjelaskan mengapa area Blok M yang awalnya dihuni banyak ekspatriat dari Negeri Matahari Terbit itu kemudian banyak ditumbuhi kedai makanan dan tempat hiburan malam dengan rasa Jepang.

Salah satu kedai makanan Jepang, Yumeya Yakiniku Restaurant, di Kawasan Little Tokyo, Blok M, Jakarta Selatan. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Memang, bukan hanya Jepang saja yang memiliki bar, pub, maupun tempat karaoke sebagai tempat melepas penat setelah bekerja. Namun, budaya dan suasana yang ada di Kawasan Blok M disesuaikan dengan kawasan distrik merah yang ada di Jepang — seperti Kabuki-cho, Shinjuku. Terangnya neonbox yang memajang label restoran dan bagaimana pelayan berdiri di depan toko untuk mengajak calon pelanggan masuk dinilai mengadopsi keadaan sesugguhnya yang ada di sana. Dan seperti distrik merah pada umumnya, Little Tokyo pun juga memiliki beberapa kedai yang menyediakan perempuan pendamping minum atau pendamping karaoke untuk tamu-tamunya.

Nyala lampion dan neon box, ciri khas dari kedai makanan yang populer di Jepang ada di Kawasan Little Tokyo, Blok M, Jakarta Selatan. Sumber: Dokumentasi Pribadi

“Itu selain untuk keperluan hiburan pribadi (bagi yang suka), juga erat kaitannya dengan bisnis. Para pebisnis menjalin hubungan erat melalui entertainment,” tutur Hasanudin Abdurakhman, melalui wawancara tertulis pada Rabu (2/12).

Argumennya ini didasari dari pengalamannya tinggal sebagai mahasiswa dan pekerja di Jepang selama 10 tahun lamanya, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia pada 2007 dan tetap bekerja di sebuah perusahaan Jepang. Hasan beberapa kali menemani tamu — yang merupakan orang Jepang — ke kawasan Little Tokyo dan menceritakan pengamatannya melalui kolom opini di sebuah media.

Kondisi klub Yujiro dan Yozora pada Senin (30/11), yang masih tutup karena pandemi. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Terlepas dari apa yang ada di dalam kawasan Tokyo Kecil itu, ia merupakan sebuah tempat yang memiliki sejarah panjang sebelum akhirnya menjadi sepi karena pandemi seperti saat ini. Little Tokyo nyatanya menyimpan banyak cerita yang dapat menjelaskan hubungan Indonesia dan Jepang — serta banyak potensi tidak tergali yang sebenarnya dapat mengembangkan Kawasan Blok M menjadi area wisata yang lebih otentik lagi.

--

--

Anita D Prameswari
Anita D Prameswari

Written by Anita D Prameswari

I'm writing for academic purposes. Hope you enjoy my stories!

No responses yet